Oligarki dalam Pandangan Fayakhun Andriadi
Fayakhun Andriadi selain
sebagai politisi juga dikenal sebagai orang dengan kapasitas keilmuan yang
mumpuni. Beberapa kali beliau, di tengah
jadwalnya yang padat sebagai ketua DPD Partai Golkar DKI jakarta masih bisa
menyempat diri menulis. Berikut kutipan tulisan Fayakhun Andriadi di Kompasiana:
Jika kini Partai Golkar sedang
menghadapi gejala oligarki kekuasaan, secara natural fenomena ini akan
mendapatkan resistensi dari tubuh partai ini sendiri. Seperti virus yang
ditolak oleh sistem imunitas tubuh, oligarki kekuasaan tidak akan mendapatkan
tempat yang langgeng di internal Partai Golkar. Sebagai sebuah partai, Golkar
sudah terbiasa dengan budaya pluralitas. Kader Golkar sangat beragam, berasal
dari latar belakang yang berbeda-beda. Baik ideologinya, pendidikan, latar
sosial, hingga agamanya. Di internal Golkar, tak ada sekat pembeda antara
kader. Parameter utamanya hanya satu: kualitas individual, kapasitas diri, dan
integritas personal.
Di dalam Golkar, yang dilihat
adalah aspek kualifikatif seorang kader, bukan kuantifikatifnya. Mulai dari
tingkat kaderisasi paling bawah, kader-kader Partai Golkar sudah akrab dengan
keragaman. Perbedaan pandangan sudah menjadi konsumsi keseharian. Partai Golkar
selalu ramai dengan paradigma. Dari struktur paling bawah hingga puncak, tak
ada sekat-sekat perbedaan, apalagi diskriminasi organisasional. Semua kader
dari seluruh lapisan membaur dalam iklim demokratis Golkar. Pada setiap momen
kepartaian, suasana selalu “panas” dan dinamis.
Di tubuh Partai Golkar, kritik
bukan tabu. Benih ini sudah tumbuh sejak di level sayap keorganisasian partai
ini. Para calon politisi ditempa dengan keragaman, perbedaan, dan kompetisi
berbasis kualifikasi. Justru aneh, ketika partai ini dipaksa sepi dari
perbedaan. Partai Golkar tak terbiasa dengan habitus politik model itu. Partai
ini akan merasa teralienasi dari jati dirinya yang sebenarnya. Jika ada kader,
pengurus, atau pimpinan Partai Golkar yang alergi dengan kritik, maka dengan
sendirinya ia akan tereleminir.
Eleminasi itu terjadi secara
natural, karena basis kultural partai ini memang kritisisme. Tak ada tempat
untuk kader, pengurus, atau pimpinan yang antipati dengan kritisime partai.
Memang harus jujur diakui, bahwa dalam beberapa tahun terakhir kecenderungan
oligarki tumbuh. Namun secara natural, perlawanan terhadap praktik oligarki
kekuasaan di tubuh Partai Golkar terus menguat. Demokrasi sudah menjadi budaya
di tubuh Partai Golkar. Sehingga segala bentuk tindakan yang bertentangan
dengan spirit itu, akan mendapatkan penolakan dari internal Partai Golkar
sendiri.
Komentar
Posting Komentar